Transparansi Tata Kelola Program MBG Maksimalkan Dampak Sosial dan Ekonomi Masyarakat

oleh -10 Dilihat
banner 468x60

Jakarta – Penguatan tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi faktor penting untuk memastikan program tersebut mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi yang maksimal bagi masyarakat. Program yang dirancang untuk meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah ini juga diyakini berkontribusi pada berbagai aspek pembangunan jika dijalankan dengan pengelolaan yang baik.

Hal tersebut disampaikan oleh Vice Executive Director Indonesia Food Security Review (IFSR) Alfatehan Septianta dalam dialog interaktif di Radio Elshinta yang membahas tata kelola serta dampak program MBG terhadap masyarakat.

banner 336x280

Dalam dialog tersebut, Alfatehan menjelaskan bahwa program MBG memiliki potensi memberikan dampak terhadap berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs). Ia menyebut setidaknya terdapat sejumlah tujuan pembangunan yang berkaitan langsung dengan implementasi program tersebut.

“Program ini memiliki dampak terhadap setidaknya tujuh tujuan SDGs, salah satunya adalah no poverty atau pengurangan kemiskinan. Dengan adanya MBG, orang tua bisa menghemat pengeluaran karena tidak perlu lagi menyiapkan makan siang anaknya di sekolah, sehingga uang tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan lain, ditabung, atau dialihkan ke kebutuhan keluarga lainnya,” ujar Alfatehan.
Menurutnya, tata kelola yang baik dalam pelaksanaan MBG akan membuat manfaat program tidak hanya dirasakan oleh anak-anak sebagai penerima makanan bergizi, tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat secara lebih luas.

Selain berkaitan dengan pengurangan kemiskinan, program MBG juga dinilai berperan dalam mengatasi persoalan kelaparan dan kekurangan gizi pada anak. Alfatehan menilai masih terdapat anak-anak di sejumlah daerah yang belum mendapatkan asupan makanan bergizi secara memadai setiap hari.

“Program ini juga berkaitan dengan zero hunger. Masih ada anak-anak yang makan hanya sekali sehari atau hanya nasi dengan lauk sederhana. Melalui MBG, setiap anak mendapatkan porsi makanan yang jelas, misalnya satu anak mendapatkan satu telur atau satu protein hewani yang cukup,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai keberadaan program MBG juga dapat memberikan dampak positif terhadap sektor pendidikan.

Makanan yang disediakan di sekolah dapat menjadi insentif bagi anak-anak untuk tetap datang dan mengikuti kegiatan belajar. “Ketika ada program MBG, anak-anak memiliki insentif untuk datang ke sekolah. Orang tua juga merasa lebih tenang karena setidaknya ketika anaknya hadir di sekolah, mereka pasti mendapatkan makanan,” kata Alfatehan.

Dalam dialog interaktif tersebut, dua pendengar Radio Elshinta turut menyampaikan pandangannya mengenai program MBG. Salah satu pendengar bernama Surya menilai program tersebut pada dasarnya memiliki tujuan yang baik, meskipun menurutnya masih terdapat sejumlah catatan terkait pelaksanaan di lapangan.

Sementara itu, pendengar lainnya, Hadi, menyampaikan bahwa program MBG akan memberikan manfaat besar apabila dijalankan secara konsisten sesuai dengan tujuan awalnya, terutama dalam memastikan kualitas makanan serta distribusi yang merata.

Menanggapi pandangan tersebut, Alfatehan menegaskan bahwa program makan di sekolah pada dasarnya telah banyak diterapkan di berbagai negara dan terbukti memberikan dampak yang luas jika dikelola secara baik.

“Program makan di sekolah di seluruh dunia bukan hanya soal gizi anak, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi. Bahan pangan dibeli dari produksi lokal, petani dan pelaku usaha kecil ikut terlibat, sehingga ekonomi lokal juga bergerak,” pungkasnya.

Ia menambahkan, dengan tata kelola yang tepat, program MBG berpotensi menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.