Oleh: Sintari Dewi )*
Hilirisasi terus menjadi strategi utama pemerintah dalam memperkuatstruktur ekonomi nasional melalui peningkatan nilai tambah sumber dayaalam. Kebijakan ini tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantunganterhadap ekspor bahan mentah, tetapi juga mendorong tumbuhnyaindustri pengolahan yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperluas investasi, serta meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Perkembangan investasi pada kuartal II-2026 memperlihatkanbahwa agenda hilirisasi kini memasuki fase baru dengan cakupankomoditas yang semakin luas.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi PenanamanModal (BKPM) menunjukkan investasi hilirisasi mencapai Rp152,7 triliunpada kuartal II-2026 atau meningkat 5,7 persen dibandingkan periodesebelumnya. Nilai itu memberikan kontribusi sekitar 29,8 persen terhadaptotal realisasi investasi nasional pada periode yang sama. Besarnyakontribusi tersebut memperlihatkan bahwa sektor hilirisasi semakinmenjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Perubahan menarik terlihat pada komposisi investasi antarkomoditas. Untuk pertama kalinya, bauksit menjadi sektor dengan realisasi investasihilirisasi terbesar di Indonesia. Nilai investasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun atau melonjak sekitar 193 persen dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar Rp13,7 triliun. Pencapaian ini menggeser posisi nikel yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung investasi pada sektorpengolahan mineral.
Posisi berikutnya ditempati investasi hilirisasi nikel sebesar Rp29,4 triliun. Sektor tembaga menyumbang Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, sedangkan berbagai komoditas lain seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanahjarang membukukan investasi sekitar Rp4,7 triliun. Komposisi tersebutmenunjukkan bahwa pembangunan industri pengolahan mulaiberkembang lebih merata pada berbagai sumber daya strategis.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani,menjelaskan bahwa perubahan komposisi investasi dipengaruhipercepatan pembangunan proyek pengolahan bauksit yang melibatkaninvestor dalam negeri maupun luar negeri. Menurutnya, peningkataninvestasi pada komoditas ini menunjukkan bahwa hilirisasi nasional tidaklagi bertumpu pada satu jenis mineral, melainkan berkembang menujudiversifikasi yang lebih kuat.
Pemerintah juga terus memperluas cakupan hilirisasi pada berbagaikomoditas unggulan lain. Rosan menyampaikan bahwa pengembangantidak hanya difokuskan pada mineral, tetapi juga diarahkan pada sektorkelapa sawit, karet, kayu, hingga pasir silika. Pendekatan tersebutbertujuan memaksimalkan potensi sumber daya alam Indonesia melaluiproses pengolahan yang menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi.
Komitmen mempercepat pembangunan industri pengolahan juga terlihatdari pembangunan fasilitas smelter. Kementerian Energi dan SumberDaya Mineral melaporkan bahwa hingga awal 2026 terdapat 14 proyeksmelter mineral terintegrasi dengan nilai investasi sekitar US$8,69 miliar. Enam proyek di antaranya merupakan smelter bauksit terintegrasi dengantotal investasi mencapai US$2,18 miliar.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi),Sudirman Widhy Hartono, menilai peningkatan investasi hilirisasi bauksitmerupakan perkembangan yang wajar. Menurutnya, kondisi itu tidakmencerminkan melemahnya industri nikel, melainkan menunjukkan bahwasektor nikel telah memasuki fase kedewasaan setelah berkembangselama enam hingga tujuh tahun sejak kebijakan larangan ekspor bijihmentah diterapkan pemerintah.
Sudirman menjelaskan bahwa proyek hilirisasi bauksit baru memasukitahap ekspansi berskala besar. Momentum itu ditandai dengan dimulainyapembangunan berbagai proyek strategis, termasuk pengembangankawasan pengolahan bauksit, alumina, dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Kehadiran proyek tersebut diharapkan mampumemperkuat industri aluminium nasional dari hulu hingga hilir.
Sudirman juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dalampengembangan investasi. Pengalaman pada industri nikel menunjukkanbahwa pertumbuhan fasilitas pengolahan yang terlalu cepat dapatmemunculkan kelebihan kapasitas, menekan harga komoditas, sertamenghadirkan tantangan dalam tata kelola industri. Pengembanganhilirisasi bauksit dinilai perlu dilakukan secara terukur agar manfaatekonominya dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian penting. Sudirman menilaipengembangan investasi harus tetap memperhatikan ketahanancadangan mineral serta kelestarian lingkungan. Tata kelola yang baikakan memastikan bahwa manfaat hilirisasi tidak hanya dirasakan dalamjangka pendek, tetapi juga mampu menjaga keberlangsungan industrinasional pada masa mendatang.
Ketua Umum Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI), Ronald Sulistyanto,menilai meningkatnya investasi hilirisasi bauksit turut dipengaruhipesatnya perkembangan industri kendaraan listrik dan manufaktur bateraiglobal. Permintaan terhadap aluminium diperkirakan terus meningkatkarena material tersebut menjadi bagian penting dalam pembangunanekosistem energi bersih.
Ronald menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan kompetitifkarena menguasai empat dari enam bahan baku utama dalam ekosistembaterai kendaraan listrik, yaitu nikel, bauksit, mangan, dan tembaga. Keunggulan tersebut memberikan peluang besar bagi Indonesia untukmembangun rantai pasok industri baterai secara lebih terintegrasi.
Nilai tambah menjadi alasan utama mengapa hilirisasi perlu terusdipercepat. Ronald menilai pengolahan bauksit hingga menjadi aluminiummampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas sekitar 10 hingga 15 kali lipat dibandingkan apabila dijual dalam bentuk bahan mentah.
Arah pembangunan hilirisasi yang semakin terintegrasi menunjukkanbahwa Indonesia tidak hanya mengejar peningkatan investasi, tetapi juga membangun fondasi industri yang lebih kokoh. Diversifikasi komoditas, penguatan rantai pasok, pembangunan smelter, serta pengembanganindustri bernilai tambah menjadi langkah penting untuk memperkuatketahanan industri nasional.
Melalui kebijakan yang terukur dan berkelanjutan, hilirisasi diharapkanmampu menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi sekaligusmeningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai industri global.
*) Konsultan Kebijakan Ekonomi – Forum Ekonomi Rakyat




