JAKARTA — Pemerintah mendorong penghematan energi, termasuk pengurangan konsumsi BBM dan opsi kerja dari rumah, guna menjaga stabilitas nasional dari dampak krisis global.
“Perkembangan global di Eropa dan Timur Tengah tentu memberi dampak kepada kita, karena akan memengaruhi harga BBM,” ucap Presiden Prabowo.
“Jika harga BBM naik, maka harga makanan juga bisa terdampak. Karena itu kita harus melakukan langkah penghematan dan antisipasi,” tegasnya.
Presiden menegaskan pentingnya kewaspadaan dan langkah antisipatif sejak dini, dengan menjadikan kebijakan hemat energi negara lain sebagai acuan.
“Kita melihat banyak negara sudah melakukan langkah-langkah penghematan. Ini bisa menjadi bahan kajian bagi kita untuk menentukan kebijakan terbaik,” ujar Prabowo.
Di sisi lain, peneliti kebijakan publik Institute for Development Policy and Local Partnership, Riko Noviantoro, menilai bahwa penghematan energi harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat.
Ia menyebut budaya hemat sebenarnya telah berkembang, namun perlu diperkuat secara konsisten.
“Budaya hemat ini energi ini sebenarnya sudah ada di masyarakat kita, seperti mematikan lampu dan AC yang tidak dipakai,” kata Riko.
Riko menekankan pentingnya mendorong penggunaan transportasi umum untuk menekan konsumsi bahan bakar serta perlunya contoh nyata dari pemerintah dalam membangun kebiasaan tersebut.
“Pemerintah memang harus memulai budaya hemat energi ini dari mula yang sifatnya individual, kelompok dan lembaga,” kata Riko.
“Hal ini bisa dicontohkan oleh pejabat untuk menggunakan kendaraan umum,” kata Riko.
Sementara itu, sektor energi nasional memastikan ketersediaan pasokan tetap aman.
Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo, menegaskan bahwa stok minyak mentah berada dalam kondisi stabil dengan sistem distribusi yang terus berjalan.
“Stok crude di kilang saat ini pada kondisi normal operation. Normal operation itu di antara 11 sampai 12 hari. Nah sisanya crude ada di mana? Ada di atas kapal yang sedang menuju ke kilang. Ada juga di lokasi subholding hulu yang melakukan pengeboran,” kata Mars Ega.
Ia menambahkan bahwa pasokan tidak terhenti dalam periode tertentu karena merupakan bagian dari rantai pasok yang berkelanjutan.
“Ini bukan berarti satu 12 hari terus habis. Ini satu rangkaian supply chain sebetulnya,” jelasnya.
Kesiapan diperkuat melalui Satgas Idul Fitri dan infrastruktur energi untuk menjaga distribusi saat lonjakan permintaan.
Sinergi penghematan, distribusi, dan kesadaran masyarakat menjadi fondasi stabilitas nasional berkelanjutan. (*)




