Oleh: Yohanis Kambuaya*
Situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Papua dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan kondisi yang relatif stabil dan terkendali. Stabilitas ini menjadi indikator penting bahwa berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat telah berjalan dalam satu arah yang sama, yakni menjaga ruang sosial tetap kondusif. Dalam konteks Papua yang memiliki keragaman sosial, budaya, dan geografis yang kompleks, terjaganya keamanan bukan hanya soal absennya konflik, tetapi juga tentang hadirnya rasa aman yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, menegaskan bahwa komitmen menjaga stabilitas telah dibangun melalui koordinasi lintas sektor yang konsisten. Ia menilai bahwa penguatan komunikasi antara pemerintah daerah dengan aparat keamanan menjadi faktor kunci dalam memastikan setiap potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini. Menurutnya, stabilitas yang terjaga saat ini merupakan hasil dari perencanaan yang matang dan kerja bersama yang berkelanjutan, sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan tenang tanpa rasa khawatir terhadap gangguan keamanan.
Sejalan dengan itu, Kapolda Papua Barat, Irjen Pol Alfred Papare, menyampaikan bahwa situasi kamtibmas di wilayahnya menunjukkan tren yang semakin terkendali dibandingkan periode sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa pendekatan preventif melalui patroli rutin, pengamanan wilayah strategis, serta interaksi langsung dengan masyarakat menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas. Selain itu, pendekatan humanis yang diterapkan oleh aparat kepolisian dinilai mampu membangun kepercayaan publik, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi objek pengamanan, tetapi juga mitra aktif dalam menjaga ketertiban.
Pandangan dari unsur legislatif juga memperkuat gambaran tersebut. Ketua DPR Papua Barat, Orgenes Wonggor, menyampaikan bahwa kondisi aman dan damai yang dirasakan masyarakat merupakan hasil dari kerja kolektif seluruh elemen. Ia menekankan bahwa nilai toleransi yang tinggi di Papua menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga harmoni sosial. Hubungan antarumat beragama dan antarkelompok masyarakat yang berjalan dengan baik menunjukkan bahwa masyarakat Papua memiliki modal sosial yang kuat dalam menghadapi berbagai dinamika yang ada.
Sekretaris Daerah Papua Barat, Ali Baham Temongmere, turut memberikan apresiasi terhadap peran aktif masyarakat dalam menjaga stabilitas. Ia menyoroti bahwa keamanan yang terjaga tidak terlepas dari kesadaran kolektif masyarakat untuk saling menghormati dan mendukung satu sama lain. Praktik toleransi yang berkembang di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan masih sangat kuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas kamtibmas di Papua tidak hanya bergantung pada aparat, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat.
Dari perspektif militer, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Amrin Ibrahim, menegaskan bahwa penguatan stabilitas keamanan dilakukan melalui evaluasi berkelanjutan serta perencanaan strategis yang terarah. Ia menyampaikan bahwa peran TNI tidak hanya terbatas pada aspek pertahanan, tetapi juga mencakup dukungan terhadap pembangunan di berbagai sektor. Program-program seperti ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur, serta pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari upaya menciptakan keseimbangan antara keamanan dan kesejahteraan.
Kepala Staf Kodam XVII/Cenderawasih, Brigjen TNI Thevi A. Zebua, menambahkan bahwa sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun sistem deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam memberikan informasi yang akurat menjadi bagian penting dalam menciptakan situasi yang kondusif. Dengan adanya komunikasi yang baik antara aparat dan masyarakat, potensi gangguan dapat diantisipasi secara lebih efektif.
Di sisi lain, Komandan Korem 181/Praja Vira Tama, Brigjen TNI Slamet Riyadi, menegaskan bahwa aparat terus meningkatkan kewaspadaan di wilayah-wilayah yang memiliki potensi kerawanan. Ia menjelaskan bahwa penguatan fungsi intelijen serta koordinasi antar-satuan dilakukan untuk memastikan respons yang cepat terhadap setiap dinamika yang berkembang. Langkah ini menunjukkan bahwa upaya menjaga stabilitas dilakukan secara adaptif dan responsif terhadap kondisi di lapangan, sehingga keamanan tetap terjaga secara menyeluruh.
Dukungan terhadap upaya menjaga kamtibmas juga datang dari kalangan pegiat hukum dan kemanusiaan. Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Papua Tengah, Yosep Temorubun, menilai bahwa keamanan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi. Ia menekankan bahwa pendekatan humanis yang dilakukan aparat menjadi langkah penting dalam membangun kepercayaan masyarakat. Selain itu, penegakan hukum yang profesional dan berkeadilan dinilai sebagai faktor utama dalam menciptakan rasa aman yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kondisi kamtibmas di Papua yang terjaga dengan baik mencerminkan kuatnya sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis. Stabilitas ini menjadi fondasi penting dalam membangun ruang sosial yang produktif serta mendorong percepatan pembangunan di berbagai sektor. Situasi yang kondusif juga memberikan kepastian bagi aktivitas ekonomi, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Dengan terus memperkuat kolaborasi, menumbuhkan nilai toleransi, serta meningkatkan profesionalisme aparat, Papua memiliki landasan yang kokoh untuk melangkah menuju kemajuan yang berkelanjutan dan inklusif di masa depan.
*Penulis merupakan Pemerhati Sosial




