Oleh: Yoga Pratama Kusuma
Masyarakat memegang peran penting dalam menjaga ketersediaan energi nasional dengan menggunakan sumber daya secara bijak selama Idul Fitri 2026. Momentum Lebaran tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga periode krusial yang menuntut kesadaran kolektif agar distribusi energi tetap stabil di tengah lonjakan kebutuhan.
Aktivitas mudik, perjalanan wisata, serta peningkatan konsumsi rumah tangga mendorong permintaan energi naik secara signifikan. Lonjakan tersebut tercermin dari proyeksi peningkatan konsumsi bahan bakar minyak, liquefied petroleum gas, hingga avtur selama periode Lebaran. Kondisi tersebut menuntut pengelolaan yang cermat agar pasokan tetap tersedia secara merata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas dengan mendorong penghematan konsumsi energi sebagai respons terhadap dinamika global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Ia menilai bahwa situasi global yang tidak menentu dapat memengaruhi harga energi, sehingga diperlukan langkah antisipatif melalui pengendalian konsumsi. Presiden juga menegaskan bahwa kondisi aman tidak boleh membuat lengah, sehingga upaya pengurangan penggunaan bahan bakar harus tetap dilakukan secara konsisten.
Selain itu, Presiden mendorong evaluasi kebijakan seperti penerapan kerja dari rumah sebagai salah satu strategi untuk menekan mobilitas dan konsumsi bahan bakar. Ia juga menekankan pentingnya pengolahan minyak mentah dalam negeri guna memastikan pasokan energi tetap terjaga. Langkah tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya nasional.
Pandangan tersebut mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia, Ali Ahmudi, menilai bahwa gerakan penghematan bahan bakar menjadi kebutuhan mendesak di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Ia melihat bahwa perilaku konsumsi yang boros justru dapat memperbesar beban negara, terutama dalam pengelolaan subsidi energi.
Ali mendorong masyarakat untuk lebih selektif dalam menggunakan kendaraan pribadi, terutama ketika perjalanan tidak bersifat mendesak. Ia menilai bahwa pengurangan mobilitas yang tidak perlu dapat membantu menekan konsumsi bahan bakar secara signifikan. Dampak dari langkah tersebut tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas anggaran negara.
Lebih jauh, Ali menekankan pentingnya percepatan pengembangan energi baru terbarukan sebagai solusi jangka panjang. Pemanfaatan biodiesel, etanol, serta sumber energi alternatif lainnya dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi besar dalam menjaga keberlanjutan energi nasional.
Pandangan senada disampaikan oleh peneliti kebijakan publik Institute for Development Policy and Local Partnership, Riko Noviantoro. Ia menilai bahwa budaya hemat energi sebenarnya telah tumbuh dalam kehidupan masyarakat, namun perlu diperkuat secara konsisten. Kebiasaan sederhana seperti mematikan lampu dan perangkat listrik saat tidak digunakan menjadi langkah kecil yang berdampak besar jika dilakukan secara kolektif.
Riko menekankan bahwa penguatan budaya hemat energi harus dimulai dari level individu, kemudian diperluas ke kelompok dan institusi. Ia melihat bahwa peran pemerintah sangat penting dalam mendorong perubahan perilaku tersebut, termasuk melalui contoh nyata dari para pejabat publik. Penggunaan transportasi umum oleh aparatur negara dinilai dapat menjadi teladan yang efektif dalam mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Dalam konteks Idul Fitri, perilaku bijak dalam menggunakan energi memiliki makna yang lebih luas. Setiap penghematan yang dilakukan berkontribusi langsung terhadap ketersediaan energi bagi masyarakat lain. Dengan demikian, merayakan Lebaran secara sederhana dan efisien menjadi bagian dari upaya menjaga keadilan distribusi energi.
Di sisi lain, kesiapan infrastruktur dan distribusi energi terus diperkuat oleh pemerintah dan pelaku industri. Satuan Tugas Ramadhan dan Idul Fitri disiagakan untuk memastikan kelancaran pasokan selama periode Lebaran. Ribuan stasiun pengisian bahan bakar, agen LPG, serta fasilitas pendukung lainnya telah dipersiapkan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa negara hadir dalam menjamin kebutuhan energi masyarakat. Namun, keberhasilan upaya tersebut tetap bergantung pada perilaku konsumsi yang bijak. Tanpa kesadaran dari masyarakat, tekanan terhadap sistem distribusi akan semakin besar dan berpotensi mengganggu stabilitas pasokan.
Merayakan Idul Fitri dengan bijak energi pada akhirnya bukan sekadar pilihan, melainkan bentuk tanggung jawab bersama. Setiap keputusan untuk menghemat penggunaan bahan bakar, listrik, maupun gas berkontribusi dalam menjaga keseimbangan pasokan. Dalam suasana Lebaran yang penuh makna, sikap tersebut mencerminkan kepedulian terhadap sesama agar seluruh masyarakat dapat merasakan kenyamanan yang sama.
Dengan menjaga penggunaan energi secara terkendali, Idul Fitri 2026 dapat berlangsung lebih lancar, aman, dan merata. Ketersediaan energi tetap terjaga, distribusi berjalan optimal, dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas tanpa hambatan.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa merayakan Lebaran dengan bijak energi merupakan langkah nyata untuk menjaga ketersediaan energi bagi semua orang secara berkelanjutan. Lebih jauh, pola konsumsi yang efisien juga membantu mengurangi tekanan terhadap sistem distribusi di titik-titik padat seperti jalur mudik dan kawasan wisata, sehingga potensi gangguan dapat diminimalkan.
Kesadaran kolektif tersebut pada akhirnya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memastikan setiap lapisan masyarakat memperoleh akses yang adil selama momen penting tersebut. (*)
*) Pengamat Energi dan Perilaku Konsumen




