
Oleh: Dhita Karuniawati )*
Kemiskinan dan gizi buruk masih menjadi tantangan besar di banyak negara, termasuk Indonesia. Salah satu solusi yang mulai diterapkan di berbagai daerah adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto diprediksi mampu memberikan dampak signifikan bagi masyarakat Indonesia. Program ini tidak hanya bertujuan untuk memastikan setiap individu, terutama anak-anak dan masyarakat kurang mampu, mendapatkan asupan gizi yang cukup, tetapi juga berperan dalam menciptakan lapangan kerja serta menekan angka kemiskinan. Pemerintah terus memastikan program MBG berdampak positif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penurunan angka kemiskinan.
Program MBG adalah inisiatif pemerintahan Prabowo-Gibran yang menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak sekolah, pekerja informal, dan keluarga miskin. Program ini sering kali diintegrasikan dengan program pemberdayaan ekonomi lokal, di mana bahan makanan diperoleh dari petani atau produsen lokal, sementara tenaga kerja berasal dari masyarakat setempat.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat telah menggelontorkan anggaran senilai Rp710,5 miliar untuk program MBG hingga 12 Maret 2025. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan bahwa program MBG telah menjangkau sebanyak 2 juta penerima manfaat. Dari jumlah penerima manfaat MBG tersebut untuk pra SD sebanyak 111.127, SD/MI 912.023, SMP/ MTs 578.465, dan SMA/MA/SMK 424.145 penerima. Kemudian untuk Ponpes sebanyak 10.681, SLB 4.548, balita 7.811, ibu hamil 1.835, dan ibu menyusui 2.613 penerima. Sementara itu, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum yang telah beroperasi 726 SPPG.
MBG bukan sekadar program bantuan sosial, tetapi lebih dari itu, menjadi strategi untuk membangun ketahanan pangan, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian lokal. Dengan adanya program ini, diharapkan setiap individu, terutama anak-anak, dapat tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Kemiskinan sering kali berkaitan dengan kurangnya akses terhadap makanan bergizi. Oleh karena itu, MBG memiliki dampak besar dalam mengurangi angka kemiskinan dengan beberapa cara antara lain mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin, meningkatkan kesehatan dan produktivitas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa program MBG tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan banyak lapangan kerja serta mengurangi kemiskinan. Kita semua terperangah juga melihat bahwa dampak MBG ini memang luar biasa kepada pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, ekosistem yang terbangun dari ekonomi, dan penurunan kemiskinan.
Luhut juga menjelaskan bahwa program MBG turut memberikan efek signifikan terhadap sektor pangan, khususnya dalam penyerapan hasil produksi dalam negeri. Kita ternyata selama 20 tahun itu surplus telur ayam dan daging ayam. Jadi dengan program ini, itu semua terserap akan jadi menggerakkan ekonomi juga. Ini baru kita tahu setelah jalan.
Sementara itu, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Arief Anshory Yusuf mengatakan, program MBG berpotensi membuka 1,9 juta lapangan kerja. Selain itu, program strategis ini dapat menurunkan tingkat kemiskinan hingga 5,8% jika dijalankan dengan baik. Manfaat program MBG bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Misalnya, apabila sebuah keluarga memiliki tiga anak, mereka bisa menerima bantuan hingga Rp 600.000 per bulan dari MBG. Nilai manfaat itu, secara kalkulasi dapat dibilang lebih besar daripada bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) yang masing-masing berkisar Rp 200.000.
Agar makan bergizi gratis ini berjalan efektif, Arief menekankan perlunya pengawasan ketat dan pelibatan masyarakat dalam pemantauan pelaksanaan program andalan Presiden Prabowo Subianto itu.
DEN pun telah mengusulkan beberapa hal agar MBG dapat berjalan lebih optimal dan tepat sasaran. Pertama, melakukan mengevaluasi dan menyempurnakan mekanisme distribusi agar lebih efisien. Kedua, audit rutin oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk memastikan tidak ada penyimpangan dalam penggunaan anggaran. Ketiga, melibatkan partisipasi masyarakat untuk ikut mengawasi agar program ini tepat sasaran. Keempat, pengelolaan rantai pasok yang tepat untuk mencegah kebocoran bahan pangan dan memprioritaskan sumber daya lokal guna mengurangi ketergantungan impor.
Dengan strategi yang tepat, program MBG diharapkan tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat penerima, tetapi juga memperkuat ekonomi nasional dengan menciptakan lebih banyak peluang kerja dan menekan ketimpangan sosial.
Program MBG bukan hanya sekadar inisiatif bantuan sosial, tetapi merupakan strategi komprehensif dalam menciptakan lapangan kerja dan menekan angka kemiskinan. Dengan melibatkan berbagai sektor ekonomi, dari pertanian hingga distribusi makanan, MBG mampu memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat.
Agar program MBG berjalan dengan sukses, perlu adanya komitmen kuat dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Dengan perencanaan yang matang serta pelaksanaan yang transparan, MBG dapat menjadi salah satu solusi nyata dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dan ekonomi yang lebih baik di masa depan.
)* Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia