MBG Ubah Budaya Sekolah Jadi Lebih Inklusif dan Humanis

oleh -9 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi siswa, tetapi juga mulai membawa perubahan nyata terhadap budaya sekolah di berbagai daerah. Sejumlah kajian sosiologi menunjukkan program ini mampu memperkuat solidaritas, meningkatkan semangat belajar, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan humanis.

Sosiolog, Musni Umar menilai program MBG memiliki dampak sosial yang luas bagi kehidupan siswa di sekolah. Selain memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi yang cukup, kegiatan makan bersama juga membuka ruang interaksi sosial yang lebih erat antar siswa. Menurutnya, secara sosiologis kebiasaan makan bersama di sekolah akan menumbuhkan generasi yang tidak hanya sehat dan cerdas, tetapi juga memiliki solidaritas tinggi terhadap sesama.

banner 336x280

“MBG di sekolah bisa menciptakan kesetaraan, kebersamaan, dan kedekatan satu sama lain. Selain itu, siswa bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan nyaman karena tidak dalam keadaan lapar. Interaksi yang terbangun dalam kegiatan makan bersama dapat memperkuat rasa empati dan kebersamaan sejak dini,” ujar Musni.

Pandangan tersebut sejalan dengan penilaian Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Toni Toharudin bahwa MBG menjadi salah satu pondasi baru dalam menciptakan pendidikan bermutu di Indonesia karena tidak hanya berdampak pada kesehatan siswa, tetapi juga pada budaya sekolah.

“Kegiatan makan bersama jadi sarana pembelajaran karakter yang alami. Siswa belajar disiplin, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus melalui pendekatan formal, tetapi dapat tumbuh melalui pengalaman keseharian yang dirancang secara bermakna,” jelas Toni.

Lebih jauh, Toni menjelaskan aktivitas makan bersama juga membuka ruang interaksi yang lebih setara antara siswa dan guru. Momen non-formal tersebut dapat memperkuat hubungan pedagogis sekaligus menciptakan rasa aman psikologis bagi siswa.

“Ketika siswa merasa dihargai dan terhubung secara sosial, mereka cenderung lebih berani bertanya, bereksplorasi, dan terlibat aktif dalam proses belajar,” tambahnya.

Di sisi lain, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan sejak awal MBG dirancang sebagai program kemanusiaan dan investasi sosial, bukan program bisnis. Pemerintah terus melakukan evaluasi terhadap mitra pengelola dapur MBG agar pelaksanaan program tetap sesuai dengan tujuan sosialnya.

“Pak Prabowo waktu itu sangat marah melihat kondisi masyarakat yang harus mengais sisa makanan. Dari situlah muncul tekad beliau, jika suatu saat mendapat amanah menjadi presiden, ingin memastikan masyarakat terutama anak-anak mendapatkan makanan yang layak,” kata Nanik.

Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul Syurya M. Nur menilai keberhasilan program MBG juga dipengaruhi oleh pendekatan komunikasi yang humanis dan kreatif kepada anak-anak. Ketika anak merasa senang, sehat, dan gizinya terpenuhi, maka tujuan besar membangun generasi unggul akan lebih mudah tercapai.

“Pendekatannya harus humanis dan humoris, bahkan bisa kreatif, seperti yang sudah dilakukan petugas SPPG mengenakan kostum superhero sehingga anak-anak tidak hanya menerima makanan, tetapi juga menantikannya,” tuturnya.

Melalui pendekatan gizi, sosial, dan pendidikan yang terintegrasi, Program MBG kini tidak hanya menghadirkan makanan bergizi di sekolah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sosial yang membentuk karakter, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan budaya sekolah yang lebih inklusif dan humanis. (*/rls)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.