Kunker Presiden Prabowo Jadi Momentum Reposisi Indonesia di Perdagangan Dunia

oleh -27 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Sinta Maharani )*

Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat menjadi momentum penting bagi reposisi Indonesia dalam peta perdagangan dunia. Di tengah lanskap global yang semakin kompetitif dan terfragmentasi, langkah diplomasi ekonomi yang terarah dipandang sebagai strategi krusial untuk memperkuat daya tawar nasional.

banner 336x280

Pesawat kepresidenan Garuda Indonesia-1 mendarat di Pangkalan Militer Andrews. Kedatangan Kepala Negara disambut Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dwisuryo Indroyono Soesilo, Atase Pertahanan RI di Washington Marsma TNI E. Wisoko Aribowo, serta Maintenance Group Commander Colonel Gary Charland.

Setelah prosesi penyambutan, Presiden langsung menuju tempat bermalam untuk memulai agenda resmi. Kehadiran diaspora Indonesia yang menyambut dengan nuansa nasional mencerminkan optimisme masyarakat terhadap arah kebijakan luar negeri dan ekonomi pemerintah.

Dalam kunjungan ke Amerika, Presiden diagendakan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan bilateral itu difokuskan pada penguatan hubungan kedua negara sekaligus pembahasan kerja sama strategis di bidang ekonomi dan perdagangan.

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menjelaskan bahwa lawatan ini merupakan bagian dari diplomasi langsung Presiden untuk meningkatkan rantai ekonomi serta produktivitas industri dalam negeri. Pemerintah menempatkan negosiasi perdagangan sebagai instrumen untuk memperkuat fondasi industri nasional, bukan sekadar memperluas transaksi jangka pendek.

Sebelum keberangkatan, Presiden menggelar rapat konsolidasi di Hambalang bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih. Pertemuan tersebut difokuskan pada penyamaan posisi kebijakan dan pematangan strategi negosiasi ekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat. Langkah ini menunjukkan bahwa setiap agenda luar negeri dirancang melalui koordinasi yang matang dan berbasis kepentingan nasional.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyampaikan bahwa kunjungan Presiden mencakup pertemuan bisnis dan investasi antara pelaku usaha kedua negara. Agenda tersebut juga menjadi bagian dari rencana penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade antara kedua kepala negara.

Menurut Haryo, pembahasan mencakup pembaruan perundingan Indonesia–Amerika Serikat, dengan target penandatanganan kesepakatan dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa secara substansi, negosiasi tarif telah rampung dan saat ini memasuki tahap harmonisasi bahasa hukum.

Kesepakatan tersebut menunjukkan komitmen Indonesia untuk memberikan pembebasan tarif bea masuk bagi sebagian besar produk asal Amerika Serikat. Sebaliknya, pemerintah AS menurunkan tarif resiprokal atas produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen. Selain itu, sejumlah komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, kopi, dan kakao memperoleh pengecualian tarif.

Langkah ini mencerminkan keberhasilan diplomasi ekonomi pemerintah dalam mengamankan kepentingan strategis nasional. Penurunan tarif dan pengecualian komoditas unggulan membuka peluang peningkatan ekspor sekaligus memperluas akses pasar Indonesia di ekonomi terbesar dunia.

Reposisi Indonesia dalam perdagangan global tidak hanya diukur dari capaian tarif, tetapi juga dari kemampuan membangun kepercayaan dan kemitraan jangka panjang. Pemerintah memandang momentum ini sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia di tingkat global dan membuka ruang kerja sama baru yang saling menguntungkan.

Turut mendampingi Presiden dalam kunjungan tersebut antara lain Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kehadiran menteri teknis menunjukkan bahwa diplomasi perdagangan terintegrasi dengan agenda energi, hilirisasi, dan penguatan sektor strategis.

Respons positif juga datang dari mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat. Jessica, mahasiswi asal Surabaya yang menempuh pendidikan di Georgetown University, menyampaikan apresiasi terhadap kinerja Presiden yang dinilainya mampu menjaga optimisme Indonesia di tengah dinamika global.

Ia menilai berbagai perkembangan yang terlihat di media menunjukkan arah kebijakan yang positif dan memuaskan. Secara pribadi, ia merasa bersyukur atas upaya pemerintah yang terus diarahkan untuk membawa Indonesia menuju kondisi yang lebih baik.

Pandangan tersebut mencerminkan kepercayaan generasi muda terhadap strategi pemerintah dalam mengelola hubungan internasional. Optimisme ini menjadi modal sosial penting dalam mendukung kebijakan ekonomi yang berpihak pada kepentingan nasional.

Secara keseluruhan, kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Amerika Serikat menandai fase baru dalam diplomasi perdagangan Indonesia. Dengan pendekatan yang terkoordinasi, negosiasi yang matang, serta dukungan publik, pemerintah menunjukkan keseriusan dalam mereposisi Indonesia sebagai mitra strategis yang diperhitungkan dalam perdagangan dunia.

Ke depan, hasil kunjungan ini diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai ekspor, tetapi juga mendorong arus investasi, transfer teknologi, serta penguatan kapasitas industri nasional. Pemerintah menegaskan bahwa setiap kesepakatan akan diarahkan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang.

Dengan fondasi diplomasi yang semakin solid, Indonesia berada pada posisi yang lebih percaya diri untuk memainkan peran sentral dalam arsitektur perdagangan global yang terus berkembang.

Di tengah perubahan tatanan ekonomi global, langkah aktif dan terukur ini memperlihatkan bahwa Indonesia tidak sekadar mengikuti arus, melainkan mengambil peran proaktif untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan meningkatkan daya saing nasional di pasar internasional.

*) Analis Kebijakan Luar Negeri dan Ekonomi Global

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.