Swasembada Protein sebagai Pilar Ketahanan Pangan Nasional

oleh -16 Dilihat

Oleh: Dewi Lestari Puteri *)

Swasembada protein kini menempati posisi sentral sebagai pilar utama ketahanan pangan nasional dan menjadi simbol keseriusan negara dalam membangun kemandirian pangan yang berkeadilan. Pemerintah secara tegas mengarahkan agenda pangan nasional tidak hanya berhenti pada kecukupan karbohidrat, tetapi melangkah lebih maju dengan memastikan ketersediaan protein hewani yang cukup, terjangkau, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat. Langkah ini mencerminkan visi pembangunan pangan yang utuh, yang menempatkan kualitas gizi masyarakat sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa swasembada protein merupakan kelanjutan strategis dari capaian swasembada beras. Pemerintah memandang sektor pangan sebagai sektor mulia karena menyangkut langsung kehidupan masyarakat luas, khususnya petani, peternak, dan nelayan yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Karena itu, pembangunan kampung nelayan, pengembangan budidaya bioflok, serta penguatan peternakan nasional dijalankan secara terencana sebagai wujud keberpihakan negara terhadap pelaku pangan rakyat sekaligus upaya memperkokoh ketahanan pangan nasional.

Narasi swasembada protein juga sejalan dengan agenda besar pembangunan manusia Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis yang digagas pemerintah menjadi bukti nyata bahwa negara hadir menjamin hak dasar rakyat atas pangan bergizi. Dengan sasaran lebih dari 82 juta penerima manfaat, program ini membutuhkan pasokan protein hewani yang kuat dan stabil. Pemerintah memandang kebutuhan tersebut sebagai peluang strategis untuk memperkuat produksi dalam negeri, sehingga swasembada protein menjadi instrumen penting dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif.

Dalam kerangka tersebut, Kementerian Pertanian mendorong percepatan hilirisasi peternakan ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir. Kebijakan ini dirancang sebagai fondasi swasembada protein yang berkelanjutan dan merata. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Agung Suganda menegaskan bahwa pembangunan ekosistem perunggasan nasional yang terintegrasi merupakan langkah strategis untuk memastikan pasokan daging ayam dan telur nasional tetap aman, stabil, dan berpihak pada peternak rakyat.

Dukungan konkret negara tercermin dari keterlibatan Badan Pengelola Investasi Danantara yang mengalirkan investasi dalam skala besar untuk memperkuat ekosistem peternakan nasional. CEO Danantara Rosan P. Roeslani menyampaikan bahwa hilirisasi pangan, termasuk peternakan ayam terintegrasi, merupakan prioritas nasional yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Investasi ini diposisikan sebagai pengungkit utama agar Indonesia memiliki industri protein hewani yang mandiri, modern, dan berdaya saing tinggi, sekaligus mampu menjawab kebutuhan nasional dalam jangka panjang.

Penguatan swasembada protein tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada keadilan distribusi dan kesejahteraan pelaku usaha rakyat. Pemerintah membuka akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat dalam jumlah besar bagi peternak dan koperasi, termasuk melalui skema Koperasi Desa Merah Putih. Langkah ini mempertegas komitmen negara untuk memberdayakan peternak rakyat agar terintegrasi dalam rantai pasok modern dan memperoleh manfaat ekonomi yang adil dari pembangunan sektor pangan.

Di sisi hilir, peran BUMN pangan menjadi bagian penting dari strategi besar swasembada protein. PT Indonesia Food atau ID Food, dengan Direktur Utama Gimoyo, diberi mandat sebagai offtaker yang menyerap hasil produksi peternak rakyat. Kehadiran BUMN sebagai penyangga pasar memperkuat stabilitas harga dan memberikan kepastian usaha, sehingga peternak dapat fokus meningkatkan produktivitas tanpa kekhawatiran terhadap fluktuasi pasar. Sinergi antara pemerintah, BUMN, dan peternak ini menjadi gambaran nyata negara hadir secara aktif dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Swasembada protein juga membawa dampak ekonomi dan sosial yang luas. Tambahan produksi daging ayam dan telur dalam skala nasional diproyeksikan menciptakan jutaan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan peternak secara signifikan. Lebih jauh, kecukupan protein hewani diyakini akan mempercepat penurunan angka stunting dan kemiskinan, sehingga kebijakan pangan bertransformasi menjadi kebijakan pembangunan manusia yang berkelanjutan.

Selain peternakan ayam, pemerintah juga mendorong diversifikasi sumber protein melalui penguatan sektor perikanan dan budidaya berbasis komunitas. Pembangunan kampung nelayan dan teknologi budidaya seperti bioflok menjadi bagian dari strategi nasional agar swasembada protein tidak bertumpu pada satu komoditas saja. Dengan memaksimalkan potensi maritim dan sumber daya lokal, Indonesia mempertegas jati dirinya sebagai negara agraris dan maritim yang berdaulat atas pangannya sendiri.

Secara keseluruhan, swasembada protein menegaskan arah baru ketahanan pangan nasional yang tidak hanya kuat secara produksi, tetapi juga adil dan berkelanjutan. Konsistensi kebijakan, dukungan investasi strategis, penguatan peran BUMN pangan, serta pelibatan aktif peternak dan nelayan rakyat membentuk satu ekosistem nasional yang solid. Sinergi lintas sektor yang terbangun hari ini menunjukkan bahwa swasembada protein bukan sekadar agenda teknis, melainkan strategi kebangsaan untuk memastikan ketersediaan pangan bergizi, memperkuat ekonomi rakyat, dan menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, unggul, serta berdaya saing di masa depan.

*) Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Pangan