Konsumsi Energi Bijak Jadi Kunci Ketahanan Nasional

oleh -5 Dilihat

JAKARTA — Pemerintah mendorong konsumsi energi yang bijak sebagai langkah antisipasi krisis global demi menjaga ketahanan nasional.

Presiden Prabowo Subianto juga mengarahkan penghematan BBM, termasuk opsi kerja dari rumah, sebagai strategi menghadapi dampak konflik global terhadap harga energi dan pangan.

“Perkembangan global di Eropa dan Timur Tengah tentu memberi dampak kepada kita, karena akan memengaruhi harga BBM,” katanya.

“Jika harga BBM naik, maka harga makanan juga bisa terdampak. Karena itu kita harus melakukan langkah penghematan dan antisipasi,” tegas Prabowo.

Presiden menegaskan Indonesia harus waspada terhadap krisis global dengan menerapkan penghematan sejak dini, serta menjadikan langkah pengendalian energi di negara lain sebagai acuan kebijakan.

“Kita melihat banyak negara sudah melakukan langkah-langkah penghematan. Ini bisa menjadi bahan kajian bagi kita untuk menentukan kebijakan terbaik,” ujar Prabowo.

Peneliti menilai penghematan energi perlu diperkuat melalui perubahan perilaku, dengan budaya hemat yang sudah ada di masyarakat didorong agar lebih konsisten.

“Budaya hemat ini energi ini sebenarnya sudah ada di masyarakat kita, seperti mematikan lampu dan AC yang tidak dipakai,” kata Peneliti kebijakan publik Institute for Development Policy and Local Partnership, Riko Noviantoro.

Riko menekankan penggunaan transportasi umum untuk menekan konsumsi BBM serta perlunya teladan pemerintah dalam membangun budaya hemat energi.

“Pemerintah memang harus memulai budaya hemat energi ini dari mula yang sifatnya individual, kelompok dan lembaga,” kata Riko.

“Hal ini bisa dicontohkan oleh pejabat untuk menggunakan kendaraan umum,” kata Riko.

Sektor energi memastikan pasokan tetap aman, dengan Pertamina Patra Niaga menjamin ketersediaan minyak melalui distribusi yang berkelanjutan.

“Stok crude di kilang saat ini pada kondisi normal operation. Normal operation itu di antara 11 sampai 12 hari. Nah sisanya crude ada di mana?” ucap Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo.

“Ada di atas kapal yang sedang menuju ke kilang. Ada juga di lokasi subholding hulu yang melakukan pengeboran,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pasokan tidak terhenti pada batas waktu tersebut karena distribusi terus bergerak dalam rantai pasok energi.

“Ini bukan berarti satu 12 hari terus habis. Ini satu rangkaian supply chain sebetulnya,” jelasnya.

Kesiapan diperkuat melalui Satgas Idul Fitri dan infrastruktur energi, dengan sinergi kebijakan, distribusi, dan konsumsi bijak sebagai kunci ketahanan energi berkelanjutan. (*)