Hilirisasi untuk Ekonomi yang Lebih Sejahtera

oleh -8 Dilihat

Oleh: Yusuf Rinaldi)*

Transformasi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin menunjukkan arah yang jelas, yaitu dengan memperkuat nilai tambah sumber daya alam melalui strategi hilirisasi. Kebijakan ini bukan sekadar agenda industrialisasi biasa, melainkan fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

Dalam konteks ekonomi global yang semakin kompetitif, langkah pemerintah mempercepat hilirisasi menjadi salah satu strategi paling rasional untuk memastikan kekayaan alam Indonesia benar-benar memberi manfaat optimal bagi masyarakat.

Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya untuk memperkuat peran Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) sebagai instrumen negara dalam mengelola sumber daya mineral secara lebih terintegrasi.

Langkah ini sangat penting mengingat selama bertahun-tahun Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah tanpa nilai tambah yang signifikan. Dengan penguatan Perminas, pemerintah ingin memastikan bahwa pengelolaan mineral tidak lagi berhenti pada aktivitas eksplorasi dan penambangan, tetapi dilanjutkan hingga tahap pengolahan industri bernilai tinggi di dalam negeri.

Presiden menekankan bahwa penguatan Perminas akan menjadi kunci bagi terciptanya pengelolaan sumber daya mineral yang lebih terpadu. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu berkembang menjadi pusat produksi dan inovasi industri mineral di tingkat global. Langkah ini semakin relevan jika melihat tren investasi nasional. Data terbaru menunjukkan bahwa sektor hilirisasi menyumbang sekitar Rp584,1 triliun atau 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional pada 2025. Angka tersebut mencerminkan bahwa transformasi ekonomi berbasis nilai tambah mulai memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi.

Selain penguatan kelembagaan, pemerintah juga mendorong pembangunan infrastruktur industri melalui pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK). Pemerintah saat ini tengah menunggu persetujuan Presiden atas pembentukan enam KEK baru yang akan difokuskan pada industri berbasis energi dan manufaktur berteknologi tinggi.

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menjelaskan bahwa seluruh kajian teknis telah rampung dan kini menunggu keputusan presiden. Ia mengatakan pihaknya sedang mengusulkan ada enam KEK baru yang akan diresmikan atau disetujui oleh Presiden. Keenam kawasan tersebut akan tersebar di berbagai wilayah strategis, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Fokus industrinya meliputi pengembangan kendaraan listrik, smelter pengolahan mineral strategis seperti nikel, hingga pengembangan energi hijau. Strategi ini tidak hanya memperkuat hilirisasi, tetapi juga menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah.

Secara kinerja, KEK telah menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan. Hingga akhir 2025, total investasi di kawasan ini mencapai Rp335 triliun dan telah menyerap lebih dari 248 ribu tenaga kerja. Dengan penambahan kawasan baru, potensi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan industri tentu akan semakin besar.

Di sektor industri pertambangan, komitmen terhadap hilirisasi juga diperkuat oleh holding industri tambang nasional MIND ID. Perusahaan ini menjalankan strategi integrasi industri dari hulu hingga hilir untuk memastikan bahwa pengelolaan sumber daya mineral mampu menghasilkan nilai tambah yang maksimal.

Corporate Secretary MIND ID, Pria Utama, menegaskan bahwa integrasi industri merupakan kunci bagi penguatan hilirisasi nasional. Beberapa proyek strategis yang sedang dikembangkan antara lain pembangunan fasilitas baterai kendaraan listrik melalui Indonesia Battery Corporation di Karawang serta pengembangan fasilitas pengolahan bauksit hingga aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek-proyek tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun ekosistem industri masa depan berbasis energi bersih.

Namun hilirisasi tidak hanya terjadi di sektor mineral. Pemerintah juga mendorong strategi serupa di sektor pertanian dan perkebunan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kemajuan sektor pangan sangat bergantung pada inovasi dan riset. Hal ini ditunjukkan melalui kesepakatan kolaborasi riset antara Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Melalui kolaborasi ini, pemerintah ingin memastikan bahwa hasil penelitian tidak berhenti di ruang akademik, tetapi benar-benar masuk ke industri dan menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat. BRIN sendiri telah menghasilkan ratusan paten di bidang pangan yang siap dimanfaatkan untuk mempercepat hilirisasi komoditas pertanian.

Pada sektor perkebunan, pemerintah juga mendorong pengembangan produk turunan dari komoditas strategis seperti tebu, kopi, kakao, kelapa, pala, dan lada. Hilirisasi di sektor ini berpotensi meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperkuat kesejahteraan jutaan pekebun di seluruh Indonesia.

Jika dilihat secara menyeluruh, kebijakan hilirisasi yang dilakukan pemerintah sebenarnya merupakan upaya membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat dan berdaulat. Dengan memproses sumber daya alam di dalam negeri, Indonesia dapat meningkatkan nilai ekspor, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat kapasitas industri nasional.

Hilirisasi bukan hanya soal industrialisasi, tetapi juga tentang masa depan kesejahteraan bangsa. Dengan kebijakan yang konsisten, dukungan teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi, strategi hilirisasi berpotensi menjadi motor utama yang membawa Indonesia menuju ekonomi yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

)*Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi