Dana Stabilisasi Topang Rupiah dari Tekanan Pasar

oleh -2 Dilihat

Jakarta – Upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global terus diperkuat melalui sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah. Berbagai instrumen moneter yang diterapkan diyakini mampu meningkatkan kepercayaan pelaku pasar sekaligus menopang ketahanan ekonomi nasional dari tekanan eksternal.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan penguatan rupiah dalam beberapa waktu terakhir mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan yang ditempuh otoritas moneter bersama pemerintah. Menurutnya, strategi yang diterapkan tidak hanya berfokus pada pengendalian nilai tukar, tetapi juga menjaga likuiditas serta meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik.

“Kebijakan tersebut meliputi kenaikan BI-Rate menjadi 5,50%, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing,” ujar Destry.

Ia menambahkan bahwa langkah-langkah tersebut semakin efektif karena didukung sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting untuk memperkuat kepercayaan investor sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet. Ia menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate merupakan kebijakan yang tepat untuk merespons tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih tinggi. Kebijakan tersebut dinilai mampu memperkuat stabilitas mata uang nasional sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah di mata investor.

“Kenaikan BI-Rate tetap merupakan langkah yang tepat untuk mendorong kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, terutama dalam kondisi tekanan terhadap rupiah yang cukup kuat,” ujar Yusuf.

Menurut Yusuf, kenaikan suku bunga berpotensi memperbaiki keseimbangan antara risiko dan imbal hasil yang menjadi pertimbangan utama investor global dalam menentukan alokasi investasinya. Dengan kondisi tersebut, peluang masuknya arus modal asing ke pasar keuangan domestik menjadi semakin besar sehingga dapat memperkuat stabilitas pasar dan menopang nilai tukar rupiah.

Kombinasi kebijakan moneter yang adaptif, dukungan dana stabilisasi, serta koordinasi yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah diharapkan mampu menjaga kepercayaan pasar. Langkah tersebut sekaligus menjadi fondasi penting dalam mempertahankan stabilitas sistem keuangan nasional di tengah tantangan ekonomi global yang masih dinamis. (*)